Praktik Kotor yang Cederai Demokrasi

oleh
Praktik Kotor yang Cederai Demokrasi
Bendera merah putih raksasa di Monas. (merdeka.com/fikri faqih)

Pumpunan – Demokrasi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari salah satunya dengan musyawarah baik yang berupa formal maupun tidak. Salah satu praktik demokrasi dalam skala besar yang dijalankan di Indonesia yaitu pemilihan umum, pemilihan kepala daerah, pemilihan kepala desa yang dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu.

Namun dalam praktiknya oknum peserta pemilihan melakukan praktik kotor agar mendapatkan suara terbanyak guna menduduki jabatan yang diperebutkan. Hal ini yang menjadikan partisipasi pemilih menjadi rendah sehingga pesta demokrasi yang diharapkan berjalan sempurna malah menjadi menunjukkan keterpurukan.

Baca Juga:
Demokrasi dan Perkembangannya di Indonesia

Nah berikut praktik kotor yang sering dilakukan oleh oknum peserta pemilihan guna mendapatkan suara terbanyak dan menduduki jabatan yang diperebutkan.

  1. Politik Uang (Suap). Peserta pemilihan memberikan atau menjanjikan uang kepada seseorang supaya memilih dirinya atau tidak menunaikan haknya jika orang tersebut berencana memilih lawan politiknya.
  2. Pemanfaatan Relasi yang Seharusnya Netral. Sejumlah lembaga dan profesi dilarang untuk ikut terlibat dalam politik. Namun karena sebuah pertemanan, hubungan keluarga, atau dijanjikan uang, dan jabatan maka lembaga dan profesi yang seharusnya netral malah membantu peserta pemilihan. Bahkan sampai penggunaan sumber daya.
  3. Penggelembungan Suara. Masih lemahnya sistem pendukung dalam pemilihan dapat membuka celah terciptanya manipulasi suara. Manipulasi terjadi pada dua hal yaitu data pemilih dan rekapitulasi penghitungan suara yang masih berjenjang.
  4. Politik Hitam. Cara lain yang sering digunakan oleh peserta pemilihan yaitu menyebarkan berita bohong terkait lawan politiknya guna mengirangi simpatik pemilih.

Baca Juga:  Daftar lengkap artikel tentang kenegaraan

Referensi:

The Conversation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.