Pembahasan Lengkap Struktur Novel

oleh
Pembahasan Lengkap Struktur Novel
Novel Kancing Yang Terlepas Karya Handry TM

Pumpunan – Struktur novel dalam terbagi atas unsur intrinsik dan ekstrinsik. Muhardi dan Hassanuddin WS (1992:23) menyatakan, fiksi yang baik adalah fiksi yang unsur-unsurnya saling tunjang-menunjang dan saling mendukung untuk mencuatkan permasalahan.  

Unsur intrinsik ialah struktur yang membangun karya sastra dari dalam, seperti penokohan, latar, alur, tema, gaya bahasa, sudut pandang pengarang, dan amanat.

Sedangkan unsur ekstrinsik ialah struktur yang membangun karya sastra dari luar karya sastra itu, seperti kebudayaan, sosial, politik, keagamaan, dan tata nilai yang dianut masyarakat.

Pembahasan struktur novel ini juga dapat digunakan pada struktur karya sastra lainnya

Baca Juga: Hakikat Novel sebagai Karya Sastra

Unsur Intrinsik dalam Struktur Novel

Unsur intrinsik dibedakan atas dua macam, yaitu: unsur utama dan unsur penunjang. Unsur utama adalah semua unsur yang berkaitan dengan pemberian makna yang tertuang melalui bahasa, yaitu: penokohan, alur atau plot, latar, tema, dan amanat. Unsur penunjang adalah segala upaya yang digunakan dalam memanfaatkan bahasa, yaitu sudut pandang dan gaya bahasa. Penjelasan unsur utama prosa diuraikan sebagai berikut.

a. Penokohan

Menurut Jones (dalam Nurgiyantoro, 1998:165), penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Kata penokohan berasal dari kata tokoh. Tokoh ialah pelaku yang mengemban peristiwa dalam rekaan sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita.

Secara garis besar, ada dua jenis penokohan atau pelukisan gambaran tentang seseorang tokoh, yaitu: ekspositori dan dramatik. Pelukisan ekspositori atau analitis adalah pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung, berupa sikap, sifat, watak, tingkah laku, atau bahkan juga ciri fisiknya. Pelukisan dramatik adalah pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan tidak langsung. Pengarang tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh. Pengarang membiarkan para tokoh menunjukkan kediriannya sendiri melalui aktivitas, baik secara verbal. (lewat percakapan) dan atau lewat non verbal (lewat tindakan atau tingkah taku).

Menurut Nurgiyantoro (1998:165), ada beberapa jenis teknik penokohan . dramatik, yaitu: cakapan, tingkah laku, pikiran dan perasaan, arus kesadaran, reaksi tokoh, reaksi tokoh lain, pelukisan latar, dan pelukisan fisik. Penjelasan jenis-jenis teknik penokohan tersebut diuraikan sebagai berikut.

Pembahasan terkait rincian pada penokohan dapat dibaca di Pembahasan Lengkap Penokohan pada Unsur Intrinsik Novel

b. Alur atau Plot

Alor atau plot adalah rangkaian cerita yang dibentuk dari tahapan-tahapan peristiwa. Alur yang baik ialah alur yang memiliki kausalitas di antara peristiwa dalam sebuah fiksi, karena hubungan alur satu dengan yang lainnya menunjukkan hubungan sebab-akibat. Menurut Muhardi dan Hasanuddin WS (1992:28), alur adalah hubungan antara satu peristiwa atau sekelompok peristiwa dengan peristiwa atau sekelompok peristiwa lain.

Menurut Nurgiyantoro (1998:142-—150) ada dua macam tahapan alur, yaitu: awal-tengah-akhir dan rincian lain. Tahap awal (perkenalan) biasanya berisi sejumlah informasi penting yang berkaitan dengan berbagai hal yang akan disahkan. Bisa berupa penunjukan dan pengenalan latar. Tahap tengah merupakan tahapan yang berisi pertikaian, pertentangan atau konflik yang terjadi dalam karya sastra. Tahap akhir merupakan tahapan yang menampilkan penyelesaian dari konflik atau biasa disebut dengan klimaks.

Tahap rincian lain, tahapan ini terbagi atas lima tahapan (Nurgiyantoro, 1998:149), yaitu berikut. (1) tahap penyituasian, yaitu tahapan yang berisi pelukisan dan pengenalan latar dan tokoh cerita, (2) tahap pemunculan konflik, yaitu tahapan yang berisi awal munculnya permasalahan, (3) tahapan peningkatan konflik, yaitu tahap yang berisi peningkatan permasalahan yang sebelumnya, (4) tahap klimaks, yaitu tahapan yang berisi puncak dari permasalahan, (5) tahap penyelesaian, yaitu tahapan yang berisi penyelesaian konflik.

Berdasarkan urutan waktu penceritaan, alur atau plot dapat dibagi menjadi tiga (Nurgiyantoro, 1998:153), yaitu: lurus, sorot-balik, dan campuran.

  • Plot lurus atau progresif menyajikan peristiwa-peristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis.
  • Plot sorot-balik menyajikan peristiwa secara tidak kronologis. Cerita dimulai tidak dari awal, tengah, dan akhir, melainkan mungkin dari tengah atau akhir, baru ke tahap awal cerita dikisahkan.
  • Plot campuran, menyajikan peristiwa dengan menggabungkan plot lurus dan plot sorot-balik.

Sebuah peristiwa dapat ditemukan ketika kita membaca satu paragraf atau beberapa sehingga mencakup beberapa halaman pada novel. Setiap peristiwa terkadang mempunyai fungsi yang sama dan ada fungsinya berbeda. Apabila peristiwa yang sama dihubungkan dengan peristiwa yang berbeda, maka akan ditemukan hubungan sebab-akibat. Jadi, sebuah peristiwa atau sekelompok peristiwa akan menjadi penyebab atau akibat dari peristiwa atau kelompok peristiwa lainnya.

Muhardi dan Hasanuddin WS (1992:29) membagi karakteristik alur atau plot atas dua bagian berdasarkan penyebab dan akibat, yaitu: alur konvensional dan alur inkonvensional.

“Alur konvensional adalah jika peristiwa yang disajikan lebih dahulu selalu menjadi penyebab munculnya peristiwa yang hadir sesudahnya. Peristiwa yang muncul kemudian selalu menjadi akibat dari peristiwa yang diceritakan sebelumnya. Alur inkonvensional adalah peristiwa yang diceritakan kemudian menjadi penyebab peristiwa yang diceritakan sebelumnya, atau peristiwa yang diceritakan lebih dahulu menjadi akibat dari peristiwa yang diceritakan sesudahnya”. 

c. Latar

Latar adalah penanda identitas permasalahan fiksi yang mulai samar diperlihatkan alur atau penokohan (Muhardi dan Hasanuddin WS, 1992:30). Latar berfungsi untuk memperjelas suasana, tempat, dan waktu peristiwa itu berlaku. Dalam membangun masalah, latar harus saling menunjang dengan alur dan penokohan. Latar yang konkret berhubungan dengan tokoh yang konkret, sedangkan latar yang abstrak biasanya berhubungan dengan tokoh-tokoh yang abstrak.

Latar akan menentukan watak dan karakter tokoh dan latar juga harus bersatu dengan tema dan plot, sehingga dapat menghasilkan cerita yang padat dan berkualitas. Jadi, latar bersangkutan dengan alur dan penokohan. Latar terbagi tiga, yaitu: latar tempat, latar waktu, dan latar sosial.

  • Latar tempat merupakan lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan. Unsur tempat yang dipergunakan bisa berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, atau lokasi tertentu tanpa nama jelas.
  • Latar waktu berhubungan dengan “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah “kapan™ tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah.
  • Latar sosial berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial juga berhubungan status sosial tokoh yang bersangkutan, misalnya rendah, menengah, atau atas. Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, bahasa, dan berkaitan tempat serta waktu yang melatari peristiwa.

d. Tema dan Amanat

Tema adalah inti permasalahan yang hendak dikemukakan pengarang (Muhardi dan Hasanuddin WS, 1992:38). Tema dapat dirumuskan dari berbagai peristiwa, penokohan, dan latar. Dalam karya fiksi terdapat banyak peristiwa yang disampaikan pengarang, tetapi hanya ada satu tema sebagai intisari dari rangkaian permasalahan itu. Tema merupakan hasil dari konklusi dari berbagai peristiwa dan latar.

Amanat merupakan opini, kecenderungan, dan visi pengarang terhadap tema yang dikemukakannya (Muhardi dan Hasanuddin WS, 1992:38). Amanat berisi pesan yang ingin disampaikan pengarang pada sebuah karya fiksi. Pesan tersebut bisa disampaikan secara langsung maupun secara tidak langsung. Amanat dalam sebuah fiksi lebih dari satu, asalkan amanat tersebut berhubungan dengan tema.

e. Sudut Pandang (Point of View)

Sudut pandang adalah cara pengarang menempatkan atau memperlakukan dirinya dalam sebuah novel yang ditulisnya. Hal tersebut dapat diketahui melalui penjabaran sang pengarang dalam novel yang diciptakannya. Adapun yang termasuk sudut pandang pengarang dalam novel, antara lain:

  • Sudut pandang orang pertama, jika pengarang sebagai orang pertama pelaku utama. Penyebutan dirinya dalam novel dengan kata; aku, saya, dan kami.
  • Sudut pandang orang ketiga, jika pengarang sebagai orang ketiga. Penyebutan dirinya dalam novel dengan kata; dia, nama orang, dan sapaan.

f. Gaya Bahasa

Gaya bahasa merupakan gaya pemilihan bahasa yang digunakan pengarang dalam novel guna menciptakan suasana atau nada. Gaya bahasa bentuknya bisa berupa pemakaian majas, pemilihan kata maupun kalimat. Setiap penulis memiliki baya bahasa yang berbeda sehingga dapat menjadi ciri khas.

Unsur Ekstrinsik dalam Struktur Novel

Unsur ekstrinsik merupakan unsur yang berada di luar karya sastra yang ikut mempengaruhi penciptaan karya sastra yaitu pengarang dan realitas objektif. Menurut Muhardi dan Hasanuddin WS (1992:20), realitas objektif yang berada di sekitar pengarang juga merupakan unsur ekstrinsik, namun pengaruhnya melalui pengarang.

Jadi dalam unsur ekstrinsik terdapat di dalamnya pengarang yang meliputi latar belakang pengarang, realitas objektif atau masyarakat di sekitar pengarang. Selain itu sebagai karya novel yang baik juga terdapat nilai-nilai yang terkandung.  

  • Latar belakang pengarang, kondisi tentang kejiwaan atau psikologis pengarang saat menuliskan novel. Hal ini bisa dipengaruhi oleh masalah pribadi yang sedang dihadapi, kekecewaan, maupun berdasarkan keinginannya.
  • Latar belakang masyarakat, mencakupi tentang kemasyarakatan atau manusia di sekelilingnya yang diketahuinya. Hal tersebut meliputi;  ideologi negara, kondisi politik, kondisi sosial, dan ekonomi si penulis.
  • Nilai-nilai yang terkandung, mulai dari nilai budaya, nilai moral, nilai sosial, hingga nilai agama.

Dalam penelitian kamu bisa menggunakan salah satu dari unsur ekstrinsik tersebut dan bisa juga gabungan. 

Baca Juga: Daftar Artikel Sastra

Referensi:

  • Muhardi dan Hassanuddin WS. 1992. Prosedur Analisis Fiksi. Padang: IKIP Padang Press.
  • Nurgiyantoro, Burhan.1998. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.
  • Detik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.